Postingan

Postingan Unggulan

Ibu, Ajarkan Aku Menjadi Sekuat Ibu

 Bismillah menjadi perempuan, menjadi istri, menjadi ibu ternyata tak mudah ketika kita harus menjaga semuanya tetap terjaga dengan tetap menjaga diri sendiri beserta semua luka dan kekecewaan yang kita bawa Kita tak bisa skip, kita tak bisa berlibur atau bahkan memberi jedapun tak terasa seperti jeda semua di depan mata, semua dihadapi, semua dibawa Ku fikir mamaku adalah perempuan paling sabar di seluruh dunia Tak pernah marah, tak pernah berkata buruk, negatif atau bahkan meluapkan emosinya pada anak-anak sekalipun Meski pada akhirnya jiwanya tumbang dan berakhir di Poli Jiwa Tapi mamaku orang yang kuat Setelah hidup bersama ibu mertua, ternyata definisi sabar memiliki pengertian yang lain Tak hanya tak pernah marah atau mengumpat tapi juga menghadapi kesepian sendirian Allah memanggil suaminya yang pertama terlebih dahulu, lalu suami yang keduanya juga "semua hanyalah titipan" tak terkecuali apa yang sebelumnya kita genggam, yang sebelumnya kita merasa miliki Sabar memili...

Ujian Hidup: Masalah Ekonomi

Banyak cerita teman yang menyinggung soal ekonomi. Hari ini bisa bahas ini karena kami juga pernah mengalami hal yang sama di masa covid yang lalu. Masa ketika pemasukan udah bukan lagi tidak menentu tapi nol. Bahkan ga bisa ngasih orang tua entah berapa waktu lamanya. Pernah kami memilih untuk tidak kondangan karena duit di dompet sisa 50ribu aja. 'Ala kuli haal. Aku bukan mau bahas caranya mengatur keuangan. Tentu setiap kalian sudah pandai dalam mengatur keuangan dalam rumah tangga masing-masing. Kali ini aku hanya ingin mengajak teman-teman untuk merefleksi bersama. Bahwa masalah ekonomi adalah masalah yang paling bisa disederhanakan: ada uang beli, ga ada ya ga beli. Hidup ini soal batasan dan prioritas bukan? Begitu juga dengan arus keuangan. Kuncinya terima dulu, terima aja, berapapun yang ada, syukuri berapapun yang Allah kasih. Karena prinsipnya makin bersyukur maka Allah tambah. Jadi kita harus qanaáh. "Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika ...

Adab dan Akhlak?

Seringkali kita merasa sedih dan kecewa karena perlakuan orang lain yang kurang menyenangkan. Berfikir, "seharusnya dia ga gitu", "kok bisa dia kaya gitu", "mestinya dia tau adab". Tidak semua orang memperhatikan adab dan akhlak terpuji. Iya, dan bahkan seseorang yang kita anggap berilmu pun juga bisa melakukan demikian. Dunia   ini tidak berjalan sesuai idealisme kita . Ada banyak POV di dunia ini. Bahkan setiap orang memiliki sudut pandangnya sendiri. Tidak bisa kita atur sikap dan lisannya. Dan rasa-rasanya di jaman medsos ini, dengan banyaknya POV dan latar belakang yang ada, membuat adab dan akhlak terpuji menjadi amat sangat subyektif. Adab di tempat umum tidak lagi sebatas "senyum, sapa, salam" tapi juga merambah pada penggunaan gadget. Misalnya saja, sopankah kita menonton video pendek dengan suara kencang di tempat umum? Sopankah kita melihat hape ketika sedang diajak bicara? Bahkan adab di dalam medsos sendiri: mengabaikan pesan tapi up...

Hafalan Aisha

Salah satu yang sering ditanyakan oleh teman, "bagaimana caranya mengajarkan anak hafalan?" Alhamdulillah, Aisha mampu menghafal Al-Qur'an sejak 2 tahun. Bisa dibilang tidak sengaja juga, karena kefakiran ilmu diri ini hanya bermodal lillahita'ala mengajarkan yang sesuai sunnah. Alhamdulillah atas pertolongan Allah, Aisha bisa hafal. Meski hanya sepotong-potong, atau akhiran ayat saja harus dipancing-pancing. Masih berkesinambungan dengan blog 2 tahun lalu yang berjudul "Pengasuhan Aisha", mengajarkan hafalan juga ternyata beriringan dengan pengasuhan. Bagaimana kita bisa mendidik anak menjadi hafidzah memerlukan beberapa perhatian khusus: 1. Membangun bonding dan memperhatikan stimulasi sensorik dan motorik anak Fitrah anak adalah bermain dan bergerak. Stimulasi sensorik menjadi faktor utama dalam tumbuh kembangnya berkaitan dengan kemampuan belajar dan perilaku. Ketika kebutuhan stimulasinya sudah terpenuhi, insyaa Allah, anak akan lebih mudah diberi pemah...

Ruang Konseling Part 3 (Jalan Kesembuhan)

Ternyata datang ke psikolog tidak seperti datang ke dokter pada umumnya. Di mana kita hanya perlu duduk, menunjukkan luka kita, mengeluhkan lukanya, lalu mendapat obat. Datang ke psikolog tidak bisa hanya menumpahkan kesedihan kita begitu saja. Bukannya terjawab, bercerita tanpa arah justru membuat pikiran dan perasaan semakin keruh dan kalut. Menghadap psikolog butuh persiapan agar sesi konseling berjalan dengan efektif dan efisien. Pengalaman setiap orang bisa berbeda-beda, tapi dari aku begini: 1. Buat list tentang apa yang ingin kita sampaikan, semacam kisi-kisi yang berisi alur permasalahan kita secara detail. Bila perlu perjalanan hidup yang berkaitan dengan luka atau beban berat yang menumpuk-menumpuk selama ini. Tapi bila kesulitan menulis saking udah numpuk-numpuknya bisa tulis masalah terbesar yang sedang dihadapi. 2. Buat list pertanyaan. Pertanyaan apa saja yang ingin kita tanyakan. Apa saja. Meski kita pikir itu engga penting tapi mengganjal di hati kita. Jangan sampai pas...

Ruang Konseling Part 2 (Psikolog)

"Kamu depresi"  Masih terngiang yang dikatakan psikiater padaku saat itu. Mungkin benar saja bahwa kondisi mentalku sedang lemah, tapi kata "depresi" itu justru masuk semakin dalam bagai sugesti yang menggerogiti kejiwaan. Ya, begitulah kelemahan mental, selayaknya iman. Ketika kita melemah dan memberi celah untuk lemah, ternyata ia akan semakin lemah dan semakin lemah. Tapi sekali lagi, jiwa juga seperti raga yang bisa sakit dan butuh penanganan. Disitulah kita perlu profesional. Aku percaya kalau kita semua memiliki pertahanan masing-masing dalam menghadapi gelombang kelemahan mental. Entah itu berupa kesedihan yang mendalam atau kecemasan atau overthinking dan lain sebagainya. Dan ketika kita mulai merasa, "sepertinya aku perlu ke psikolog" itu sebenarnya adalah sinyal naluriah dari dalam jiwa kita untuk meminta bantuan. Seperti halnya badan yang tiba2 meriang, ia butuh istirahat. Jiwa yang sakitpun butuh penanganan. Tapi inget, kita ga boleh self diagn...

Ruang Konseling Part 1 (Psikiater)

Siapa yang mengira bahwa Esa si tukang bikin puisi, yang sukanya memotivasi dan nyemangatin orang-orang ini tiba-tiba didiagnosa depresi. Aku sendiripun tidak percaya, masih teringat jelas bagaimana rasanya ditembak langsung oleh psikiter saat periksa mama. Tapi, sungguh, ada banyaak sekali pembelajaran berharga yang aku terima. Dan semoga perjalananku kali ini dapat membantu siapapun yang sedang membutuhkan dorongan kesehatan mental dan persiapan konseling. Karena yaa memang datang konseling tidak semudah itu. Sebelumnya aku akan warning dulu bahwa tulisan kali ini mengandung banyak triger. Jadi buat kamu yang memiliki triger harap berada dalam pengawasan profesional ya. inhale ... exhale ... Akhir tahun 2023, aku mendatangi ruang konseling psikiater bersama mama. Sebenarnya ini bukan kali pertama. Aku sudah menjalaninya sejak 2017 sebagai caregiver. Saat pertama kali membawa mama yang sudah tidak sadar (kenyataan) ke rumah sakit jiwa yang lokasinya sekitar 1 jam dari tempat tinggalku...