Postingan

Postingan Unggulan

You Can Handle This

Pernah gitu bilang sama teman, "Rasanya udah capek, diuji lagi, diuji terus, sebentar ketawa, sebentar menangis. Kaya pengen udahan aja" Bukan menyerah karena ujiannya berat, tapi menyerah karena bosan diuji lagi diuji lagi. Salah satu contoh gembelangan yang fasik. Na'udzubillah mindzalik. Istighfar. Sampe akhirnya menyadari, hijrah butuh pegangan yang kuat, bukan sekedar tau halal dan haram, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, tapi juga harus mampu menggapai hikmah dari setiap kejadian. Harus mampu meraih taufik dan hidayah yang bisa diwujudkan dengan berbaik sangka kepada Allah. Ada banyak sekali contoh sedih, ketika seseorang diuji bukan makin tobat tapi kembali ke habibat. Tulah kenapa urusan niat dan hati harus selalu dikoreksi. Harus selalu minta sama Allah: hati yang sabar, lapang bersih, yang kuat untuk menerima takdir, hati yang istiqomah, dan hati yang lembut untuk menerima hidayah. "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji ...

Privilege

Bismillaah Ngomongin soal privilege, yang lagi banyak diomongin anak-anak muda akhir-akhir ini Kenapa sih heboh soal privilege? Menyadarkan kaum elite soal realitas sosial yang gak pernah mereka sentuh? Atau justru membuat kita, golongan-golongan menengah ke bawah untuk semakin rendah diri, menyadari kekurangan dan limit kepercayaan? Hei! Semoga teori-teori itu tidak membuat kita kufur nikmat dan lupa bahwa bukan privilege yang membuat kita berhasil, tapi Allah! Sebagai seorang muslim, Allah udah kasih kita privilege yang begitu spesial, Kita punya Allah, Dzat Penguasa Hidup Kita punya kedudukan yang sama bagi Allah, Yang artinya kita pun punya kesempatan yang sama untuk berhasil, selama Allah menghendakinya. Seorang muslim tidak dilahirkan sebagai seorang "looser" Tau ga sih seruan takbir kemenangan setiap taun perayaan Eid? Kita bahkan punya seruan kemenangan di setiap 5 waktu panggilan sholat. Tentu ini berpengaruh amat besar dalam kehidupan kita hanya bagi orang yang mau ...

"Aku Bukan Ibu yang Baik"

Bismillahirrahmanirrahim  Salah satu keluhan yang muncul dalam sesi konseling bersama Psikolog adalah, "aku bukan ibu yang baik" Atas dasar banyak kekurangan-kekurangan diri dalam hal mendidik anak Atau karena (lagi-lagi) ketinggian ekspektasi?  Pernah "meledak" karena Aisha melakukan kesalahan kecil Pun sering kali Aisha suka melawan padahal itu normal saja bagi anak-anak ya kan Coba bayangin aja kondisinya: anak perempuan pertama vs anak perempuan pertama  Tapi pancene psikolog, beliau cuma bilang "Alhamdulillah, mba ada yang harus disyukuri ketika kita merasa "bukan menjadi ibu yang baik". Ini lebih baik daripada kita merasa "aku sudah memberikan yang terbaik untuk anak-anakku" Cuma gini doang aku lega Yang beriringan dengan terbukanya hati dan pikiran untuk sekali lagi belajar memperbaiki diri, mengatur strategi dalam menghadapi si anak perempuan pertama versi mini ini  Allahuma barik Ada banyak masalah dalam hidup yang sebenarnya hanya ...

Ibu, Ajarkan Aku Menjadi Sekuat Ibu

 Bismillah menjadi perempuan, menjadi istri, menjadi ibu ternyata tak mudah ketika kita harus menjaga semuanya tetap terjaga dengan tetap menjaga diri sendiri beserta semua luka dan kekecewaan yang kita bawa Kita tak bisa skip, kita tak bisa berlibur atau bahkan memberi jedapun tak terasa seperti jeda semua di depan mata, semua dihadapi, semua dibawa Ku fikir mamaku adalah perempuan paling sabar di seluruh dunia Tak pernah marah, tak pernah berkata buruk, negatif atau bahkan meluapkan emosinya pada anak-anak sekalipun Meski pada akhirnya jiwanya tumbang dan berakhir di Poli Jiwa Tapi mamaku orang yang kuat Setelah hidup bersama ibu mertua, ternyata definisi sabar memiliki pengertian yang lain Tak hanya tak pernah marah atau mengumpat tapi juga menghadapi kesepian sendirian Allah memanggil suaminya yang pertama terlebih dahulu, lalu suami yang keduanya juga "semua hanyalah titipan" tak terkecuali apa yang sebelumnya kita genggam, yang sebelumnya kita merasa miliki Sabar memili...

Ujian Hidup: Masalah Ekonomi

Banyak cerita teman yang menyinggung soal ekonomi. Hari ini bisa bahas ini karena kami juga pernah mengalami hal yang sama di masa covid yang lalu. Masa ketika pemasukan udah bukan lagi tidak menentu tapi nol. Bahkan ga bisa ngasih orang tua entah berapa waktu lamanya. Pernah kami memilih untuk tidak kondangan karena duit di dompet sisa 50ribu aja. 'Ala kuli haal. Aku bukan mau bahas caranya mengatur keuangan. Tentu setiap kalian sudah pandai dalam mengatur keuangan dalam rumah tangga masing-masing. Kali ini aku hanya ingin mengajak teman-teman untuk merefleksi bersama. Bahwa masalah ekonomi adalah masalah yang paling bisa disederhanakan: ada uang beli, ga ada ya ga beli. Hidup ini soal batasan dan prioritas bukan? Begitu juga dengan arus keuangan. Kuncinya terima dulu, terima aja, berapapun yang ada, syukuri berapapun yang Allah kasih. Karena prinsipnya makin bersyukur maka Allah tambah. Jadi kita harus qanaáh. "Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika ...

Adab dan Akhlak?

Seringkali kita merasa sedih dan kecewa karena perlakuan orang lain yang kurang menyenangkan. Berfikir, "seharusnya dia ga gitu", "kok bisa dia kaya gitu", "mestinya dia tau adab". Tidak semua orang memperhatikan adab dan akhlak terpuji. Iya, dan bahkan seseorang yang kita anggap berilmu pun juga bisa melakukan demikian. Dunia   ini tidak berjalan sesuai idealisme kita . Ada banyak POV di dunia ini. Bahkan setiap orang memiliki sudut pandangnya sendiri. Tidak bisa kita atur sikap dan lisannya. Dan rasa-rasanya di jaman medsos ini, dengan banyaknya POV dan latar belakang yang ada, membuat adab dan akhlak terpuji menjadi amat sangat subyektif. Adab di tempat umum tidak lagi sebatas "senyum, sapa, salam" tapi juga merambah pada penggunaan gadget. Misalnya saja, sopankah kita menonton video pendek dengan suara kencang di tempat umum? Sopankah kita melihat hape ketika sedang diajak bicara? Bahkan adab di dalam medsos sendiri: mengabaikan pesan tapi up...

Hafalan Aisha

Salah satu yang sering ditanyakan oleh teman, "bagaimana caranya mengajarkan anak hafalan?" Alhamdulillah, Aisha mampu menghafal Al-Qur'an sejak 2 tahun. Bisa dibilang tidak sengaja juga, karena kefakiran ilmu diri ini hanya bermodal lillahita'ala mengajarkan yang sesuai sunnah. Alhamdulillah atas pertolongan Allah, Aisha bisa hafal. Meski hanya sepotong-potong, atau akhiran ayat saja harus dipancing-pancing. Masih berkesinambungan dengan blog 2 tahun lalu yang berjudul "Pengasuhan Aisha", mengajarkan hafalan juga ternyata beriringan dengan pengasuhan. Bagaimana kita bisa mendidik anak menjadi hafidzah memerlukan beberapa perhatian khusus: 1. Membangun bonding dan memperhatikan stimulasi sensorik dan motorik anak Fitrah anak adalah bermain dan bergerak. Stimulasi sensorik menjadi faktor utama dalam tumbuh kembangnya berkaitan dengan kemampuan belajar dan perilaku. Ketika kebutuhan stimulasinya sudah terpenuhi, insyaa Allah, anak akan lebih mudah diberi pemah...