Setelah 9 Tahun (Trigger)

بسم الله الرحمن الرحيم 
Disclaimer: Aku bukan seorang profesional. Cerita ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sebagai caregiver dari penyintas schizophrenia-bipolar disorder untuk meningkatkan self awareness dan social awarness terhadap kesehatan mental diri dan sekitar. 
Tulisan ini cukup panjang. Cerita terpanjang yang pernah aku tulis. Jadi aku buat beberapa poin yang bisa menjadi tanda kalo kalian pengen jeda dulu hehe
Buat teman-teman caregiver atau penyintas harap baca dengan hati-hati ya karena cerita ini mengandung trigger.

1. "MAMA BUTUH PSIKOLOG"
"Mama rasa mama butuh psikolog", gitu kata mama jauh sebelum "kejadian besar" itu terjadi.
Kami memang sering bercerita, sambil memasak bersama di dapur. Bisa dibilang temen mama cerita cuma aku doang - karena beliau ada trauma cerita ke tetangga. Aku pun selalu cerita semuanya sama mama. Mama ga pernah keluar rumah kecuali hanya untuk hal penting saja. Sampai akhirnya, aku inget banget mama bilang, "mama butuh psikolog" tapi saat itu aku masih belum mengerti jadi aku hanya tertawa, berfikir itu hanya bercanda dan bilang "apa sih ma, psikolog di mana ada" saat itu memang kayaknya belum ada itu hal-hal kaya gitu kan?

Mama termasuk orang yang cukup cerdas literasi. Mama memang suka membaca, entah buku atau majalah. Bahkan hampir tiap bulan kami membeli majalah saat aku kecil dulu. Rumah kami terbiasa penuh dengan Tabloid Nikita, C&R, Bintang, Majalah Bobo, Aneka Yes, Gadis, KawanKu, sampai Majalah Hidayah semua ada. Mama juga suka menulis puisi. Perasaannya sensitif, pikirannya banyak. Pendiam, tak banyak bicara, bahkan marah2 atau ngomel2 ga pernah. Semenjak punya hp android, mama beralih jadi suka baca-baca artikel di internet, setiap saat. Tapi ya gitu lah ya kalo di internet beritanya macam-macam, sering hoax. Sementara mama juga se-overthinking itu. Jadi segala macam berita, ia baca, ia serap, ia rasa. Tapi ya tentu saja, pemicunya bukan dari satu kejadian tunggal. Ada satu kasus lain bersama teman-teman alumninya yang bikin mama "meledak" secara emosional. Yang aku sadari belakangan itu puncak dari kondisi psikologis mama yang udah berhari-hari gak tidur dan gak makan karena mikirin kasus itu. Saat itu aku tidak memperhatikannya karena aku mulai sibuk bekerja dan kami jadi jarang bercerita. Saat tau kasus itu, aku sempat negur langsung orang tua itu dengan segala dramanya geger sealumni mama, tapi aku tak peduli.
Mereka harus tau gara-gara tingkah kekanak-kanakan mereka menyebabkan seseorang masuk RS Jiwa, mamaku.

2. HARI KEJADIAN
Hari itu, aku baru banget masuk kerja (2017). Masih pagi hari banget, mama tiba2 masuk ke kantorku sambil mengomel nyuruh aku pulang, tapi bahkan matanya entah melihat kemana. Aku bingung, mamaku kenapa, bahkan di rumah ga pernah sekalipun mengomel begini. Senior bilang, "ga papa sa kamu pulang aja ikut mama". Akhirnya aku pulang sambil menangis dengan perasaan yang sangat bingung dan takut, diikuti oleh 2 seniorku saat itu. Beliau berdua menenangkanku dan bilang untuk fokus ke mama dulu dan ga perlu ngantor dulu. Malam harinya kondisi mama semakin parah tidak wajar. (Tidak perlu diceritain lah yah bagaimana detailnya, karena masih cukup traumatik juga buat kami)
Sampai ada satu anggota keluarga yang menyarankan untuk panggil "mantri" khusus ke rumah. Ternyata beliau adalah perawat yang bertugas di Poli Jiwa RS Banyumas, beliau menyarankanku untuk ke psikiater yang ada di sana (saat itu cuma ada psikiater di RS itu). Sejak saat itu, hari-hari dipenuhi dengan bolak-balik ke kota untuk priksa keadaan mama yang berubah-ubah. Entah itu di RS atau di klinik tempat psikiater itu praktek. Pokoknya setiap ada perubahan dari tingkah laku mama aku selalu bawa ke klinik. Dan aku baru tau belakangan ternyata itu juga bagian dari efek obat yang bekerja secara perlahan. Jadi sebenarnya masih bisa dipantau duluu. Tapi karena aku tidak tau, jadi setiap mama aneh-aneh aku langsung bawa lagi ke psikiater dikasih obat lagi dan lagi. Sampai akhirnya psikiater memberi saran mama dirawat intensif di RS. Ditempat itu juga aku terus menerus bertanya kenapa bisa terjadi, apa sebabnya, bagaimana bisa sembuh.

3. TELUSURI PENYEBAB
Di RS itu, mama dirawat selama 10 hari di Poli Jiwa. Ruangannya berbeda dengan ruangan poli lain. Ada jeruji besi di pintu dan jendelanya. Yaa, cukup traumatik juga kalo diinget. Di waktu ini, mama menjalani berbagai test. Dokter bilang, penyakit mental bisa disebabkan oleh faktor psikologis atau dipengaruhi oleh faktor biologis yang menyerang kinerja otak atau sistem sarafnya sehingga psikologisnya kena. Jadi, kami menjalani semua tindakan mulai dari rontgent sampai CT Scan untuk tau apa ada faktor biologis yang berpengaruh atau memang murni dari psikologisnya aja. Hasilnya ga ada yang menunjukkan masalah. Jadi memang murni dari psikologis. Kami bahkan sempat membawa mama rukyah di klinik Ustadz yang ternama di tahun 2024 ku kira. Jawaban timnya sama, ini murni dari gangguan psikologis, tanpa ada gangguan dari hal-hal ghaib atau semacamnya. Akupun menyadari betul tanda-tanda ghaib apapun tidak pernah ada di rumah kami. Alhamdulillah. Mama orang yang cukup religius. Bahkan di saat kondisinya seperti ini beliau masih ingat untuk shalat.

Sekali lagi, sakit mental tidak di mulai dalam semalam. Bisa dari trauma yang tidak dikelola dengan benar, rasa kecewa, sakit hati, tidak terima, kelelahan emosional, tekanan perasaan, yang tersimpan, bertumpuk-tumpuk bahkan mungkin sudah dirasakan sejak kecil (innerchild). Dan 
Mama mengalami semuanya, menyimpan semuanya, sampai akhirnya kapasitas mentalnya sudah tidak bisa menampung apa-apa lagi. Kaya semua yang dipendam akhirnya meledak menjadi perkataan dan tingkah laku yang tidak terkontrol. Hal-hal yang sebenarnya bisa dicegah kalo kita punya kesadaran yang baik. Kalo kita bisa merelease segala perasan itu dengan baik.
قدر الله وماشاء فعل 

4. CARA PENYEMBUHAN
Selama 9 tahun menemani mama sakit, aku banyak menggali informasi. Gak hanya rajin bertanya ke psikiater tapi juga ikutan kelas, workshop tentang kesehatan mental. Ternyata, sakit mental bukan sakit yang bisa diobati seperti halnya sakit fisik. Dan bila sudah ditahap seperti mamaku sudah tidak bisa lagi lepas obat. Ada beberapa aturan yang harus dijaga ketat. Misalnya, harus minum di waktu yang sama, tidak boleh telat (maksimal 5 - 10 menit). Tidak boleh tiba-tiba berhenti minum obat karena itu bisa memperparah kondisinya. Justru ketika pasien merasa sudah sembuh, merasa tidak butuh obat, itu berarti obat bekerja dengan baik dan tetap butuh pengawasan dokter. Dokter akan observasi lagi untuk mengurangi dosisnya seiring kondisi pasien membaik sampai akhirnya tidak minum obat lagi atas keputusan dokter. Jadi, bersyukur banget kalo pasien masih bisa diajak diskusi. Karena kalo udah separah mamaku ini udah ga bisa lagi turun dosis. Pasti kambuhnya.

Pernah waktu awal-awal aku belum tau, mama tiba2 berhenti minum obat karena merasa sudah sembuh. Selama hampir 2 atau 3 tahun mama gak minum obat atau kontrol sama sekali. Aku pun berfikir mama sudah sembuh total.  
Tapi ternyata, hal itu memperburuk kondisi mama yang tiba-tiba kambuh lagi setiap kali ketrigger. Dan sejak itu mama mulai sering kambuh. Mulai dari setahun sekali, sampai akhirnya beberapa bulan sekali. Terakhir kambuh kemarin (Okt 2026) mama self harm saat dalam kondisi "gak sadar". Waktu aku cek obat, ada selisih 3 butir yang gak diminum. Psikiater pun langsung bilang, "ini pasti gak rutin ya obatnya?". Jujur keluarga di rumah juga merasa mama ga perlu dipantau karena mama terbiasa mengurus obatnya sendiri secara mandiri. Mamapun kalo diurusin obatnya ga mau karena merasa mampu dan sehat aja gitu, ga perlu diurusin. Tapi, kejadian kemarin menyadarkan kami bahwa mama tetap harus selalu dipantau. Harus terus dalam pengawasan. Minum obat di jam yang sama, ga boleh terlambat, ga boleh terlewat.

Hanya itu saja minum obat. Seperti kata psikiater waktu aku tanya, apa yang bisa dilakukan untuk mengembalikan mama ke kesadaran awal. Terapi apa kek, gitu. Psikiater bilang, "kamu hanya perlu memastikan mama kamu minum obat". Itu saja.

5. TOLONG DIRIMU SENDIRI
Bahkan sampai hari ini, setelah 9 tahun berlalu, setelah selfharm, mama masih merasa, "aku baik-baik aja kok, aku sehat-sehat aja". Mama juga sempat menolak minum obat, karena merasa percuma. Sungguh, jadi pembelajaran yang berharga banget tidak hanya bagi pasien tapi juga keluarga yang menjaga. Ini bukan sakit yang bisa diterima oleh orang umum. Ini bukan sakit yang bahkan bisa diterima akal kebanyakan. Hal itu yang menjadi alasan untukku ga bercerita ke siapa-siapa bahkan keluarga besar dan tetangga. Bahkan diceritain pun mereka tak yakin. Mereka hanya percaya pada hal-hal ghaib. Entah berapa kali aku berdebat dengan sesepuh yang mau ngasih mama benda-benda mistis sebagai tolak bala. Entah berapa kali juga aku dikira anak ga bener karena masukin mama ke poli seperti itu, karena mereka ga tau bagaimana mama kalo kambuh di rumah.

Sakit yang bahkan pasiennya sendiri juga ga tau.
Pasca ranap di RS kemarin, aku bertanya sama mama, "apa yang mama rasakan?", "apa yang mama dengar?", "apa ada bisikan?", "apa ada cahaya-cahaya?" hal-hal yang sebelumnya sering mama ceritakan, tapi kali ini mama bilang tidak ada, "Rasanya gak bisa dijelaskan. Malah kaya ga ngerasain apa-apa". Waktu masih di rawat di RS kemarin, mama bilang, "mama ingin kembali jadi orang normal". Sedih sekaliii mendengarnya. Aku selau merasa sedih kehilangan sosok mama yang biasa aku kenal, yang menjadi tempat aku bercerita, yang selalu kasih nasihat bijaksana. Tapi kali ini seperti melihat POV mama, pasti lebih sedih lagi yang mama rasakan sebagai pasien. She lost herself. Dan bahkan setelah 9 tahun, kami masih berusaha untuk berdamai dengan takdir Allah yang satu ini. Kami masih menangis. Tidak apa-apa, kan? Kesedihan juga bagian dari jiwa yang hidup.

Lalu, kejutan terbesarnya juga terjadi pada diriku. Yang sebenarnya juga sudah siap-siap. Pernah di satu sesi konseling onlen ke psikolog saat mamaku kambuh setelah lama ga minum obat (sekitar th 2022), psikolog bilang "Mba, kalo kondisi mama seperti ini sudah harus ke psikiater, bukan ke psikolog lagi. Justru yang membutuhkan pendampingan psikolog adalah mba dan anggota keluarga di rumah yang mengurus pasien". 
Lalu saat ke psikiater membawa mama, seperti biasa aku hanya banyak bertanya tentang hal-hal yang mungkin bisa dilakukan, lalu tiba-tiba psikiater bilang, "kamu depresi". Ehh, lho? Semudah itu ya? Sebuah titik balik membawaku pada perjalanan sehat mentalku sendiri. Teman-teman bisa baca "Ruang Konseling". (Klik label "ruang konseling" dibawah cerita ini)


6. JALAN HIKMAH

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ

Kali ini mulai lebih memperhatikan diri bahwa bagaimanapun bisa merasakan perasaan syukur dan bahagia dari hal-hal sederhana adalah kenikmatan yang tidak ternilai.
Kurangi sangkal, banyak-banyak menerima apapun ketetapan Allah. Karena semakin denial semakin bercokol sakit mental itu di jiwa.
Banyak-banyak berdamai dengan hal-hal yang ada di luar kendali kita.

Berlatih lebih mindful, menyadari kondisi hati, menyadari triger kita, mengurai setiap perasaan baik dan perasaan buruk sebagai bahan refleksi diri (muhasabah).
Dengan menyadari kondisi hati, memahami triger dan perasaan kita, kita akan lebih mudah mencegah perasaan-perasaan negatif untuk hadir dan menetap. Kita jadi lebih mudah memahami kapasitas diri, memahami keadaan, lebih memahami mana yang beneran kenyataan - mana yang hanya kekhawatiran atau prasangka kita saja.

Menulis jurnal juga bisa membantu untuk mengurai perasaan dan menyadari perubahan-perubahan kecil dalam diri kita. Dan setiap perubahan itu sungguh berarti.
Jangan sungkan bercerita dan bertanya kalo dirasa kok kaya ada yang ga beres. Jangan ragu datang ke professional kalo kita merasa sudah ada perubahan di perasaan kita, perubahan di aktivitas sehari-hari, perubahan mood kita, jadi sulit tidur yang biasanya sepaket sama sulit makan, rasa sakit atau tidak nyaman di bagian tubuh tertentu (misal perut, dada, atau bagian belakang kepala), gemetar atau sesak yang terjadi tiba-tiba tanpa sebab. Itu bisa menjadi tanda kecemasan yang perlu penanganan. Datang ke psikolog memang gak mudah, jadi aku tulis beberapa hal yang mungkin bisa membantu di blog "Ruang Konseling".
Bila jadi caregiver, jangan sungkan bercerita. Jangan sungkan meminta bantuan orang terdekat juga libatkan tetangga untuk kerja sama dalam menjaga dan mengawasi penyintas karena amat sangat menguras energi dan mental caregiver.

Beratnya ujian, kadang membuat kita merasa kecil. Justru disaat itulah, kita kembali mengingat posisi kita sebagai hamba. Mengingat bahwa Allah lah yang berkuasa atas hidup kita dan berkuasa atas segalanya. Allah bisa menetapkan keadaan se-badai itu, Allah juga pasti bisa membalikkan keadaannya jadi seindah pelangi. Allah juga yang memilih kita untuk diuji dengan ujian yang seperti ini dan seperti ini. Pun, bila kita diuji dengan ujian orang lain, belum tentu kita sanggup.
Dan itulah ketetapan Allah yang terbaik.

Setiap ujian, setiap musibah menjadi sarana untuk mendewasakan kita, memperbaiki diri kita dari kekurangan yang kemarin, dari kesalahan yang kemarin. Allah naikkan derajat keimanan kita menjadi orang yang lebih tenang, lebih sabar, dan lebih kuat dari kemarin. Jadi lebih religius, lebih dermawan, lebih tangguh dari kemarin. Atau minimal jadi lebih berakhlak, jadi lebih sayang keluarga, lebih sayang diri sendiri, itu juga perubahan yang lebih baik.
Hikmah yang lebih besar bisa kita raih saat kita memahami lebih dalam.
Siapa sangka jalan hijrah melalui birul walidain dari 2017 itu membawaku pada takdir Allah yang jauuuh lebih indah >> perjalanan nikah + Mekah 2 tahun kemudian (2019).

Semoga Allah memberi sisa waktu yang bermanfaat dan bermakna bagi hidup kita di dunia ini.
Sehat-sehat jiwa raga buat semuanya
 برك الله فيكم🌻

Terima kasih teman-teman yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca.
Semoga apa yang aku tulis dapat diambil manfaat dan membantu teman-teman yang sedang membutuhkan informasi mengenai ini.
Heal yourself. Jangan merasa sendiri ^^

Klik "ruang konseling" yang berwana orange di bawah ini untuk membaca perjalanan sehat mentalku. Ada 3 part, harap baca berurutan yaa ... ^^ 
Pelan-pelan aja, take your time

Komentar

Postingan Populer